
Suaraku tercemar amarah
menantang kilatan petir tajam matamu
memaksa tangan menggenggam
membuang gelisah ke tempat sampah
Kala bara membakar raga
menerbangkan kesadaran
asap dendam mengawan
abu nafsu berjelaga
dengki hanguskan hati
suram jiwaku kini
mampukah kucuci
dengan embun pagi
dari endapan malam yang terluka
oleh satu pertempuran
Artikel Cari Di Sini
Monday, July 13, 2009
AMARAH
Thursday, April 16, 2009
Untuk Ayah
Kubayangkan butir air mata memenuhi pelupuk matamu
saat kau membacakan baris-baris kasih sayang
kepada buah hatimu
Kusapa, ada beberapa butir air mata menggantung di sukmaku
hendak menyeruak ke dunia menemani keharuanmu
Tak ada yang dapat kuucapkan hari ini
seperti hari kemarin, aku hanya bisa membisu
coba kutulis beberapa kata ungkapan kehormatan
kepadamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah
merasuki tulang-tulang tuamu.
Adakah aku akan melihat orang tuaku
sebahagia lantunan nyanyian hatimu
yang hendak menempuh tahap tertinggi kodrat manusia?
aku merenung menggores bayangan butiran air matamu
yang terdorong keluar oleh kebahagiaan
aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku
yang tak sanggup menahan keharuan
menuntut jalan keluar,
mungkin hendak berteman dengan air matamu
Monday, March 23, 2009
KANTIN KAMPUSKU
AKU dan dia selalu memesan menu yang sama:
semangkok soto daging, nasi dua piring dan
dua botol teh, pakai es. Lalu, dengan
kecap manis dan sambal yang berlebih, kuah itu
menjelma menjadi seperti larutan sampel
tanah dalam percobaan tiga unsur tekstur..
Ini bukan soal kemesraan, ini penghematan.
Ini juga tentang wesel datang lambat bulan.
Lagi pula yang paling nikmat di meja-meja itu
adalah percakapan tanpa menu: jenaka selalu.
Semurung apapun mendung di matamu, seketika
terusir oleh riuh tinggi percakapan di kantin itu.
Kepada seorang kawan yang stres karena skripsi
tentang pengaruh zeolit terhadap pertumbuhan
jahe (atau jagung manis) kuceritakan lelucon
ini: "Tahukah kamu? Nama saudara aktor
Tabah Panemuan? Namanya, Sabar Penelitian!"
Soto yang sama di kantin ini disantap oleh dosen,
mahasiswa, asisten dan penjaga laboratorium...
Sekujur Kesepianku
Kurayapi sekujur kesepianku
Mengundang angan dan sengat kumbang
Mata bintang yang diam dan berkelesatan
Menyuguhi harapan di semesta lenggang
Sampai kasih dan ingin terbentang
Membujuk pengembara merakah
Yang tenggelam di bawah kubang resah
Menanti dara cantik yang telah datang
Membujuk arah pengembara merambah
Terus mewangi aroma bunga cinta sampai ujung hari
Membangkitkan gairah sang pencinta dalam darah
Yang menentangkan kesenyapan sendiri
Ku temukan perempuanku
Dalam batas asa ku mengagumi sesok diri membaui
Dan membenamkan dua serpihan bintang
Yang memancarkan pesona terang
Ia selalu memintaku melukiskan kisah yang ada
Atas cinta terperi di dinding-dinding hati
Kami hanyalah sepasang pecinta mengharap sejati
Bersama berkelana dari waktu-kewaktu menjaga setia